Tuhankah Waktu

Hari-hari ini aku gundah. Entahlah. Perasaan ini tak enak saja. Mungkin aku terlalu banyak membuang waktu. Ya, inilah pangkalnya. Aku yakin benar.

Kini usiaku 20 tahun. Bulan depan bertambah satu. Kemudian pertanyaan yang selalu menghantuiku adalah : Apa yang sudah kau lakukan selama waktu itu?

Tak terasa, hampir genap tiga tahun aku duduk di bangku kuliah. Kampus yang dipenuhi hipokrisi makin membuatku mual. Terkadang jiwa ini ingin meledak rasanya. Kampus ini mengajariku equality before the law, tapi di tempat ini pulalah aku melihat penghianat-penghianat itu. Mereka mengingkari perkataan yang digetarkan oleh pita suara mereka sendiri. Ah, aku makin yakin saja bahwa hukum tidak terletak di hati manusia. Ia telah bersemayam di alam pikiran kita—mengawang-awang. Fana. Ia ada tapi tak bisa kita rasakan. Terima kasih, kampus swasta yang berlagak nasionalis dengan embel-embel kerakyatanmu. Kau membuka mataku akan busuknya negeri ini : sesak dengan pembual! Terima kasih karena telah menginjak-injak hukum itu sendiri. Kau makin menebalkan kepercayaanku. Idealismeku.

Aku mungkin terlalu percaya diri atau mungkin sok hebat karena berbicara tentang tataran yang hakiki. Ideal. Namun, bukankah ke arah itulah kita seharusnya berjalan? Atau kau mau hidup biasa-biasa saja—dibohongi dan dibodohi.

Bicara tentang hal-hal yang “indah” memang kegemaranku. Tapi jangan kau coba berbincang tentang indeks prestasi. Pas 3,00. Tak ada niatku untuk menaikkannya barang 0,5. Meaningless. Nilai bukan surga bagiku. Ia bukan hadiah yang harus aku impikan. Berangkat dari pemahaman inilah, aku tampaknya mulai terperosok ke sebuah lubang. Menjelang berakhirnya semester enam ini, aku tampak seperti keledai tua yang kehabisan tenaga sementara beberapa kawanku berlari bak singa kelaparan yang menemukan makanannya. Aku bukannya takut menjadi mahasiswa abadi, karena aku yakin tak ada yang abadi. Bukan juga khawatir menjadi pengangguran karena nilai yang tak mampu bersaing di lantai bursa kerja. Ketakutanku Cuma satu : kekecewaan orangtuaku akan pendidikanku yang tidak berjalan di lajur mainstream—kuliah cepat, nilai summa cumlaude, dan bekerja di perusahaan besar di pinggir jalan Sudirman, pusat Jakarta. Ya, itu saja sebenarnya.

Seorang kawan selalu berujar bahwa Tuhannya adalah waktu. Ya, tidak ada yang salah dengan pilihan. Barangkali benar bahwa waktu akan membuktikan segalanya : kebahagiaan, kesuksesan atau juga kegagalan. Waktu memberi kita pengalaman dan dari titik itulah kita belajar memperbaiki diri. Keledai tak akan jatuh untuk kedua kalinya pada lubang yang sama. Begitu pula dengan keledai tua.

Ayo, waktu. Kita berpacu dalam irama. Irama perjuangan yang mengumandangkan kebebasan hidup—yang bertanggungjawab.

Advertisements

Televisi

Aku benci televisi.

Sebuah ruang dimana imajinasi dimanipulasi menjadi realita.

Wajah tampan rupawan bersanding dengan wanita yang tinggi menjulang. Rambut hitamnya yang lurus melengkapi beningnya rupa itu.

Fana.

Televisi mengjustifikasi keindahan! Padahal manusia dilahirkan untuk merdeka, termasuk untuk menentukan kebahagiaan mereka sendiri. Tak perlu meniru mereka yang berlenggak-lenggok di layar kaca!

Hipokrit.

24 jam gelombang itu diterbangkan dan masuk melalui sela-sela rumah. Dengan perantara kabel, kepalsuan itu digelar. Sesaat manusia dimabukan dengan cerita-cerita indah. Tapi setelahnya, giliran kesengsaraan dihidangkan. Mereka yang tergulung ombak. Kehilangan rumah bahkan sanak saudara.

Sejurus kemudian, dengan rayuan maut, keikhlasan kita diketuk. Mereka yang ada di dalam layar itu menawarkan diri untuk menyampaikan belasungkawa kita. Benarkah? Tidakkah semua itu bagian dari sandiwara? Kita atau mereka yang bertenggang rasa? Atau mereka hanyalah alat?  Oh, jadi mereka yang di dalam sana bukan manusia? Boneka barang kali. Tapi siapa yang menjadi dalangnya?

Aku benci televisi,

karena aku diajarinya untuk tidak bisa membedakan air mata dan histeria.

Aku harus menjauh dari televisi,

karena aku berhak menentukan imajiku sendiri. Aku berhak untuk mengenal orang-orang di sekelilingku tanpa tedeng aling-aling.

Televisi menyemburkan jutaan warna yang bisa membuat aku, dan mungkin juga kamu, tidak mampu membedakan mana hitam, mana putih.

Aku benci televisi.