Persimpangan Jalan

Ruang ini membawa isinya menuju dimensi lain. Warnanya hanya hitam dan putih. Semua orang berteriak lantang di dimensi itu. A adalah A dan B adalah B.  Idealisme, begitu orang sinis terhadapnya. Ah, peduli setan. Pun, dua tahun aku berkelana di dimensi itu. Bukan keterasingan. Bukan. Sepasang mata ini membuka lebih lebar melihat sebuah kenyataan.

Habis sudah petualangan itu. Aku harus keluar dari lubang hitam dan putih itu dan melihat bahwa dunia ternyata hanya diwarnai abu-abu. Muram dan membosankan. Mulut-mulut itu berkoar sekenanya. Tidak ada lagi kesederhanaan, mengatakan apa yang seadanya. Gugurkah nyalaku menghadapi abu-abu ini?

Yang aku tau, manusia tidak pernah berbohong kepada dirinya sendiri.

Angkuh

Laiknya berpakaian kuning di sebuah pemakaman. Begitulah Pertamina Tower di Fakultas Ekonomi UGM ini. Tidak mau beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Tidak paham adaptasi apalagi prinsip positioning. Tingginya mengingatkanku pada menara gading di jiwa akademisi. Angkuh! Inilah penanda kekinian atas matinya keberpihakan akademisi atas ketidakberesan tatanan sosial.

Deus Caritas Est

“Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Demikianlah salah satu prolog yang membuka sejarah kehidupan alam semesta—menurut kitab suci yang saya percayai. Manusia, si makhluk yang paling sempurna, diberikan legitimasi kekuasaan atas makhluk lainnya, yang tidak sempurna. Jadi jangan heran ketika penghargaan terhadap binatang di negeri ini masih setinggi mata kaki. Mereka diburu—kulitnya jadi pakaian, gadingnya dilelang, dagingnya disantap, namanya menjadi sinonim kata-kata kasar. Lantas siapa yang barbar?

Deus Caritas Est atau Tuhan adalah kasih menjadi semacam counter culture terhadap perilaku manusia yang tak berakal tadi. Veterinarian, sekelompok orang yang mengabdikan hidup mereka, bukan untuk menjalankan kuasa, tapi untuk mengulurkan tangan kepada hewan. Semua itu semata-mata demi sebuah animal walfere.

Marki Gorki

A dog is the only thing on earth that loves you more than he loves himself  – Josh Bilings.

You think dogs will not be in heaven? I’ll tell you, they will be there long before any of us – Robert Louis Stevenson.

Marki Gorki, one of some reasons why i should go home earlier. Yeah, you’ve been in a part of my life–my family life.

Analog! #3

Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya pada 5 September 1945, Sultan Hamengku Buwono IX, penguasa negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang termasyhur itu, mengeluarkan sebuah pemberitahuan kepada rakyatnya dan juga para petinggi sebuah negara baru bernama Republik Indonesia. Singkatnya, pemberitahuan yang kemudian dikenal sebagai Amanat HB IX itu menyatakan bahwa Yogyakarta di bawah kekuasaan kesultanannya adalah bagian dari Indonesia. Ia sebagai raja memegang kekuasaan terhadap daerahnya serta pernyataan bahwa hubungan RI dan kesultanannya bersifat langsung.

Hari itu, (29/8), Sultan HB X berdiri berdampingan dengan GKR Hemas isterinya, menerima kedatangan rakyatnya yang merayakan lahirnya amanat HB IX. Kebetulan beberapa hari sebelumnya Idul Fitri hadir menyapa umat Muslim sehingga lengkap sudah perayaan yang dirayakan dari pagi hingga sore itu.

Rakyat berbondong-bondong memasuki keraton. Mereka berbaris satu persatu, perempuan-lelaki, dari orang dewasa hingga anak kecil. Semuanya datang dengan satu tujuan yang sama: bersalaman dengan sang raja.

Satu hal yang membekas, karena berbeda dengan berita yang biasa kita lahap dari media-media mainstream bahwa rakyat jatuh kehilangan nyawa ketika menghadiri open house pejabat-pejabat negara di ibukota. Siang itu, saya dengan pengelihatan dan pendengaran sendiri, menjadi saksi betapa raja selayaknya melayani rakyatnya. “Sultan akan berdiri hingga sore untuk menyambut para hadirin”, kira-kira demikian pengumuman dari pengeras suara. What a leader.

Hari ini, kita haus akan sebuah kepemimpinan yang melayani. Kita muak mengabdi. Kita seharusnya lelah dihianati. Adeldom verplicht, demikian Kartini pernah berujar.