It’s always a pleasure to help friends to make their dream come true. A few days ago, my friends and I helped Puspa Panglipurjati to held her first book launching. She writes poem and it is cool. She talks about love, God, letters, and a mailman. The book is titled “Intro”. I made the booklet for that event. And here is the layout.

This one is the printed version.

I don’t even know who Michael Franti is, but i do like his quote which says that “every single soul is a poem”. I’d like to know him more and read poems more than before. haha.
“Marriage: that I call the will of two to create the one who is more than those who created it.” - Friedrich Nietzsche



[These photographs are all taken by Abraham Utama in the highest spot of Gunung Kidul, Yogyakarta, where the wedding was held]

Have you gone to an exhibition lately?

Diam bukan berarti kosong. Diam menyimpan seribu bahasa. Ketika akhirnya ia tak lagi diam, roda kembali berputar. Mengembalikan sesuatu kembali ke tempat yang semestinya.

Terang selalu muncul dari rongga-rongga kosong yang murung.

Hari itu Yesus memasuki Yerusalem. Kerumunan orang yang mendengar berita akan kedatangannya itu kemudian berkerumun di gerbang kota untuk menantinya. Sambil membawa daun palma, Yohanes mencatat, mereka berseru “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”
Minggu Palma, demikian mereka yang percaya pada Yesus memperingati peristiwa di atas. Menjadi penting karena kedatangan Yesus ke Yerusalem sesungguhnya dalam rangka menepati janjinya atas sebuah penebusan. Hari-hari setelah peristiwa itu, ia diseret, dicambuk, diadilli hingga akhirnya mati di atas salib.
Beberapa waktu lalu, ketika melihat sebuah foto Paus Benediktus ke-XVI sejajar dengan salib yang dipasang di sebuah ruangan, pikiran ini teringat pada satu ajaran kasih. Paus Yohanes Paulus ke-II saat itu berkunjung ke Suriah dalam rangka napak tilas perjalanan Paulus, murid Yesus yang kemudian ditahbiskan gereja menjadi seorang suci. Dalam kunjungannya itu, Karol Wojtyla–nama Paus Yohanes Paulus ke-II–berkunjung ke sebuah mesjid bernama Olmayyad di pusat kota Damaskus. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu sebelum ia menginjakan kakinya di ubin mesjid yang berkarpet. Itulah untuk pertama kalinya seorang pemimpin tertinggi umat Katholik masuk ke dalam rumah ibadah pengikut Nabi Muhammad SAW.
Kemudian ia berkata, “For all the times that Muslims and Christians have offended one another, we need to seek forgiveness from the Almighty and to offer each other forgiveness.“
Selamat Minggu Palma.
Kerakyatan itu sederhana bila kau jujur. Seperti sore itu, ketika muda-muda itu berlari mengejar kulit bundar di hamparan pasir depan simbol ketamakan pendidikan, Ghra Sabha Pramana.


Mataram Theater is now becoming a garbage disposal. Tribun Jogja last year wrote that this legendary monument will potentially be a spot of dengue virus growth. Click the image above to see the essay photo.

Ruang ini membawa isinya menuju dimensi lain. Warnanya hanya hitam dan putih. Semua orang berteriak lantang di dimensi itu. A adalah A dan B adalah B. Idealisme, begitu orang sinis terhadapnya. Ah, peduli setan. Pun, dua tahun aku berkelana di dimensi itu. Bukan keterasingan. Bukan. Sepasang mata ini membuka lebih lebar melihat sebuah kenyataan.
Habis sudah petualangan itu. Aku harus keluar dari lubang hitam dan putih itu dan melihat bahwa dunia ternyata hanya diwarnai abu-abu. Muram dan membosankan. Mulut-mulut itu berkoar sekenanya. Tidak ada lagi kesederhanaan, mengatakan apa yang seadanya. Gugurkah nyalaku menghadapi abu-abu ini?
Yang aku tau, manusia tidak pernah berbohong kepada dirinya sendiri.

Jangan pikir hanya kantor-kantor yang memiliki office boy. Mudrikah, seorang wanita paruh baya, menjadi penanggung jawab dapur di sebuah pasar sayur di daerah Bandungan, Ambarawa. Laiknya seorang office boy, ia memberi minum hampir seratus pedagang sayur di pasar pagi itu. Ia menyeduh teh dan kopi panas, gelas demi gelas, agar tubuh para pekerja pasar itu menghangat. Memulai aktivitas pukul 04.30 WIB, Mudrikah mengantar satu per satu gelas ke ‘meja’ pekerja pasar. Ia nyaris hapal setiap pesanan langganannya. Dari keringatnya, ia bisa menyekolahkan anaknya yang berusia sembilan tahun di sebuah SD Negeri.
Mudrikah adalah potret perjuangan masyarakat kelas bawah. Penghasilan Rp75.000 per hari jelas tidak cukup untuk mengarungi kerasnya hidup. Nilai yang jauh di bawah Upah Minimum Regional itu berhadapan mata dengan tingginya harga bahan pokok. Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan, Mudrikah memberikan contoh bahwa makan harus berasal dari keringat sendiri. Berdikari! Bertopang dagu dan menunggu belas kasih adalah kegiatan yang tidak berarti. Manusia harus bekerja untuk menyambung hidup!







